Aku memberanikan diri memintamu bercerita. Tentang Ray, tentang jalan aspal panas ketika tengah malam, tentang putaran roda dan raungan knalpot, tentang kecepatan di atas normal, tentang balap liar. Meski aku mendengarkan dengan hati sakit.
"Syaratnya pertama, kaka gak boleh marah!"
Aku hanya mengangguk
"yang kedua, Aku masih mencintaimu, begitu juga dengan Ray, aku mencintainya juga. Dengan alasan yang sudah aku ceritakan berulang kali kepadamu!"
Aku juga mengangguk saja kali ini, daripada berantem. Kamu memandang kosong sejenak, menerawang kejadian-kejadian kemudian mulai bercerita dengan mata berbinar.