Hujan selalu memberikan cerita yang berbeda bagi semua orang yang melaluinya. Tetes hujan yang menembus hati yang panas sehingga membuat nyaman. Guyuran deras yang menyeka wajah akan melarutkan air mata yang tersamar. Ada yang berlari riang karena ribuan temannya datang dari atas langit. Ada yang malah berteduh takut basah. Ada yang sudah berharap-harap kedatangannya sejak lama. Ada juga yang mengutuknya ketika hujan datang. Ah... jadi teringat Perempuan Desir Angin. Kapan-kapan saja lah aku ceritakan tentang dia.
Riak-riak di atas aspal pada jalanan datar memberikan kewaspadaan dan peningkatan ketangkasan bagi penunggang kuda besi. Kubangan air yang terlihat riaknya tidak beraturan masih aman untuk dilindas dengan perlahan. Kubangan yang terlihat tenang malah mencurigakan, jangan-jangan malah lubang menganga dalam. Motor beserta pengemudinya bisa terjungkal.
"Kenapa datang terlambat?"
"Hujan deres pak, Macet banyak terjadi Banjir pak."
"Kamu itu alesan doang bisanya."
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 26 Februari 2015
Selasa, 18 November 2014
November pun hujan
Aku memberanikan diri memintamu bercerita. Tentang Ray, tentang jalan aspal panas ketika tengah malam, tentang putaran roda dan raungan knalpot, tentang kecepatan di atas normal, tentang balap liar. Meski aku mendengarkan dengan hati sakit.
"Syaratnya pertama, kaka gak boleh marah!"
Aku hanya mengangguk
"yang kedua, Aku masih mencintaimu, begitu juga dengan Ray, aku mencintainya juga. Dengan alasan yang sudah aku ceritakan berulang kali kepadamu!"
Aku juga mengangguk saja kali ini, daripada berantem. Kamu memandang kosong sejenak, menerawang kejadian-kejadian kemudian mulai bercerita dengan mata berbinar.
"Syaratnya pertama, kaka gak boleh marah!"
Aku hanya mengangguk
"yang kedua, Aku masih mencintaimu, begitu juga dengan Ray, aku mencintainya juga. Dengan alasan yang sudah aku ceritakan berulang kali kepadamu!"
Aku juga mengangguk saja kali ini, daripada berantem. Kamu memandang kosong sejenak, menerawang kejadian-kejadian kemudian mulai bercerita dengan mata berbinar.
Kamis, 06 Februari 2014
Sahabat air
Mumpung sekarang musim hujan, bolehlah saya ikut-ikutan posting tentang air, boleh ya. Ini cerita tentang masa kecil.
Dulu Guru SD saya menjelaskan bahwa air itu berputar, mempunyai siklus yang melingkar. Air yang ada di permukaan bumi, di laut menguap kemudian menjadi awan. Awan di langit terkena udara dingin dan terjadilah titik-titik air. kejadian ini dinamakan kondensasi. Karena jumlah titik-titik air sangat banyak maka awan tidak mampu lagi menahannya. Turunlah hujan. Hujan di gunung, hujan membasahi tanah, terserap ke dalam tanah. Dari dalam tanah muncullah mata air di berbagai tempat. mata air yang satu dengan yang lain yang berdekatan berkumpul menjadi kali-kali kecil yang kemudian menjadi sungai yang besar dan bermuara ke laut. Air tanah juga bisa diambil dengan cara membuat sumur atau bor dengan kedalaman tertentu.
Penguapan bisa terjadi pada tumbuhan, cucian baju rumah tangga, sungai dan laut. Uap air terbang ke langit jadilah awan dan begitu seterusnya.
Dulu Guru SD saya menjelaskan bahwa air itu berputar, mempunyai siklus yang melingkar. Air yang ada di permukaan bumi, di laut menguap kemudian menjadi awan. Awan di langit terkena udara dingin dan terjadilah titik-titik air. kejadian ini dinamakan kondensasi. Karena jumlah titik-titik air sangat banyak maka awan tidak mampu lagi menahannya. Turunlah hujan. Hujan di gunung, hujan membasahi tanah, terserap ke dalam tanah. Dari dalam tanah muncullah mata air di berbagai tempat. mata air yang satu dengan yang lain yang berdekatan berkumpul menjadi kali-kali kecil yang kemudian menjadi sungai yang besar dan bermuara ke laut. Air tanah juga bisa diambil dengan cara membuat sumur atau bor dengan kedalaman tertentu.
Penguapan bisa terjadi pada tumbuhan, cucian baju rumah tangga, sungai dan laut. Uap air terbang ke langit jadilah awan dan begitu seterusnya.
Langganan:
Postingan (Atom)