Sabtu, 25 Januari 2014

Merindumu hari Sabtu

Bukankah ini sudah menginjak sabtu, bahkan terhitung akhir bulan. Harusnya sih engkau segera menghubungiku. Tapi sekarang sudah jam segini, belum ada telepon atau pesan atau apalah membuat aku tenang.
Seperti sabtu-sabtu sebelumnya, biasanya engkau sudah aktif berbicara melalui telepon, bercerita tentang kegiatanmu. Aku pikir, hari sabtu adalah hari bebas bagimu, karena tidak banyak yang dikerjakan. Aku juga tidak ada kelas yang harus dihadiri. Kita biasanya ngobrol meskipun terbentang jarak.
Teringat sebuah janjimu dua minggu yang lalu, akhir bulan engkau akan menemuiku. Dan aku tahu bahwa hari yang mungkin adalah hari sabtu, tidak ada hari yang lain. Maka Akhir bulan itu adalah hari ini. Hari sabtu di minggu terakhir, sabtu depan sudah masuk ke awal bulan berikutnya.

Ah Engkau, Perempuan Desir Angin, Mengapa tidak sedikitpun kabar darimu hari ini. Aku tidak berani untuk memulai menghubungimu. Takut mengganggu aktifitasmu. Aku masih menunggumu, telepon, pesan atau apalah yang bisa memberitahuku. Atau bahkan kabar kamu sedang dalam perjalanan ke tempatku. Aku pikir, jarak Surabaya ke sini cukup 2 jam. Dan itu akan banyak waktu untuk sekedar memberikan pesan kepadaku. Apakah kamu sesibuk itu di hari sabtu, atau sedang dalam perjalanan menemuiku saat ini.

 Aku ingin sekali mendengar suaramu saat ini, aku ingin bertemu engkau saat ini seperti janjimu.
 Tahukah engkau wahai Perempuan Desir Angin, sekarang aku sangat merindukanmu,    ....  sangat  ...

  Sabtu merindu

14 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Giveaway Sabtu Merindu di BlogCamp
    Salam hangat dari surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah terdaftar. Terima kasih pakde, semoga saya yang menang hahahaha

      Hapus
  2. Balasan
    1. Perempuan Desir Angin, ada cerita di balik penamaan itu. Monggo dibongkar-bongkar saja cerita dalam tag desir angin, mungkin puteri bisa menemukannya

      Hapus
  3. Mbok dijemput saja. Biar nggak usah merindu. He...7x

    BalasHapus
    Balasan
    1. masalahnya, sayanya gak punya nyali

      Hapus
  4. Perempuan Desir Angin ? jangan2 nomer ponselnya ganti mas, jadi dia ga bisa dihubungi atau menghubungimu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah itu, berbaik sangka saja tidak terjadi hal hal yang tidak baik. Semoga

      Hapus
  5. Waahh..julukan yg unik perempuan desir angin, filosodfi atau maknanya apa nich?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama itu kusematkan kepadanya, hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu. Ada cerita di balik pertemuan dengannya

      Hapus
  6. Selama ini saya jadi pengagum postingan pangerannya perempuan desir angin.
    Perempuan desir angin sedang menabur semilir penenang jiwa galau di tengah kacau, Mas. Jagad raya sedang butuh desir beliau, untuk sementara 'pinjam' perempuan desir anginnya ya.
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perempuan Desir Angin sedang dipingit agar tidak jadi rebutan hihihi

      Hapus
  7. bunda pingin berbisik pada Perempuan Desir Anginmu,
    bahwa Mandor Tempe ini belum ounya cukuo nyali , jadi bersabarlah.... :)

    lain kali, sampaikan juga salam bunda untuk Perempuan Desir anginmu, ya Pak Mandor :)

    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whahaha jangaan bunda
      saya kan masih gak punya keberanian untuk mengungkapkan itu semua

      Hapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih