Saya tak hendak memperdebatkan penulisan Insya Allah atau Insha Allah, apakah sholat syolat atau salat, bahkan Syahadat pun demikian. Biarlah mereka yang ahli bahasa yang membahasnya. Saya terima matengnya saja. Sampai saat ini belum ada kesepakatan kan ?!
Pernah terima janji? Atau bahkan malah pembuat janji? Dijawab dengan Insya Allah?
Saya punya 2 illustrasi berikut :
A. Hari minggu besok saya libur. Tidak ada kegiatan yang dilakukan seharian. Paling hanya cuci baju dan menjemur, itu bisa dilakukan paling lama 1 jam. Eh besok acaranya apa? Training teknik ekspor untuk UKM jam 11. Insya Allah saya datang.
B. Hari minggu besok saya libur. Pagi jam 7 sudah harus sudah bersiap mengantarkan ibu ke pasar. Setelah itu ambil beras di Jatinegara sambil cari informasi harga karpet. Setelah itu harus jemput adik di tempat lesnya jam berapapun.
Eh besok acaranya apa? Training teknik ekspor untuk UKM jam 11. Insya Allah saya datang.
Kira-kira, kondisi yang mana, saya, anda kita, semua, sering bilang Insya Allah?