Si ibu ini sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. “ini tidak adil!” seru ibu itu. “Sikap anda telah mencuri semua impian saya pada waktu itu. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit? Anda seharusnya memuji saya, dan bukannya mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!”
Si pakar menjawab lagi dengan tenang, “Tidak ... tidak, saya rasa saya telah melakukan hal yang benar. Anda tidak harus minum anggur satu barel untuk membuktikan anggur itu enak. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya sudah sangat lelah setelah pertunjukan. Dan sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa anda mestinya fokus pada impian anda, bukan pada ucapan atau tindakan saya.”
Tampilkan postingan dengan label pujian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pujian. Tampilkan semua postingan
Senin, 27 Oktober 2014
Pujian sedikit
Mungkin sebagian dari anda pernah membaca cerita motivasi tentang seorang penari yang dikirim secara viral di email. Cerita tentang seorang penari yang ingin menunjukkan tariannya kepada seorang pakar yang sedang berkunjung di kota tersebut. Kalau masih belum pernah, langsung saja cari di mbah google tentang "Impian Yang Terbuang" atau "Kisah Penari Berbakat". Berikut paragraf cuplikannya,
Langganan:
Postingan (Atom)