Kamis, 06 Februari 2014

Sahabat air

Mumpung sekarang musim hujan, bolehlah saya ikut-ikutan posting tentang air, boleh ya. Ini cerita tentang masa kecil.

Dulu Guru SD saya menjelaskan bahwa air itu berputar, mempunyai siklus yang melingkar. Air yang ada di permukaan bumi, di laut menguap kemudian menjadi awan. Awan di langit terkena udara dingin dan terjadilah titik-titik air. kejadian ini dinamakan kondensasi. Karena jumlah titik-titik air sangat banyak maka awan tidak mampu lagi menahannya. Turunlah hujan. Hujan di gunung, hujan membasahi tanah, terserap ke dalam tanah. Dari dalam tanah muncullah mata air di berbagai tempat. mata air yang satu dengan yang lain yang berdekatan berkumpul menjadi kali-kali kecil yang kemudian menjadi sungai yang besar dan bermuara ke laut. Air tanah juga bisa diambil dengan cara membuat sumur atau bor dengan kedalaman tertentu.
Penguapan bisa terjadi pada tumbuhan, cucian baju rumah tangga, sungai dan laut. Uap air terbang ke langit jadilah awan dan begitu seterusnya.


Air adalah kebutuhan untuk manusia. Air menjadi sahabat bagi manusia, menolong semua kegiatan sehari-hari. Bu guru mencoba berkomunikasi dengan murid-muridnya. "Ada yang bisa menyebutkan kegunaan air?"
Maka murid-muridnya pun berebut menjawabnya
"Untuk minum bu, nimba dari sumur terus digodok. kalau masih mentah rasanya gak enak."
"Untuk masak!"
"Untuk cuci pakaian bu."
"Untuk membersihkan kotoran."
"Untuk menyiram jalan biar tidak panas dan tidak berdebu."
"Untuk menyirami tanaman."
"Untuk mususi (halah boso opo iki rek?), untuk cuci beras!"

Bu guru pun tersenyum karena murid-murinya cerdas semua.

Sesampainya di rumah, saya langsung membuktikan pelajaran di sekolah itu. kuambil air dan kutuangkan ke tanah. eh, airnya langsung terserap ke dalam tanah. Langsung bergabung dengan air tanah yang ada di sumur belakang, begitu pikiran saya. Air yang kutuangkan tadi bisa jadi terambil lagi di sumur belakang, atau bisa jadi keluar di mata air di suatu tempat yang jauh di sana.

Kesimpulan yang saya ambil adalah bahwa kali-kali kecil yang dialiri air itu pasti ada beton di bawahnya, karena air tidak bisa meresap ke dalam tanah. Seperti halnya got di depan rumah, dibuat dari beton setengah lingkaran untuk mengalirkan air ke kali. Begitu juga sungai brantas yang begitu besarnya, pasti di bawahnya dicor dengan semen, karena air tidak bisa meresap ke bawah tanah. Kalaupun ada tanah terlihat di dasar sungai, itu pasti bawaan lumpur dari atas gunung sana. Yang pasti, di bawah lumpur itu ada cor-corannya. namanya juga masih kecil.

Maka saya tidak mengerti kenapa terjadi banjir. Padahal kata bu guru, air meresap ke tanah dan itu sudah saya buktikan di rumah. Ketika hujan di rumah pun, tidak terjadi apa-apa. Air mengalir sesuai dengan pemahaman saya. Hujan turun membasahi jalan. Air mencari tanah kemudian meresap.

Berita-berita banjir kerap terdengar, namun itu kan terjadi di jakarta. Jakarta kan isinya beton semua. Jalanan diaspal, diplester dengan semen. Tidak menyisakan tanah sedikitpun untuk peresapan air. Kata bu guru sih begitu, air tidak dikasih jalan sehingga air hujan di Jakarta tidak mau bersahabat lagi dengan manusia di sana. Begitu pikir saya ketika melihat berita-berita di TV.

Jakarta hujan di sini pun hujan. Jakarta biarin banjir, saya malah keluar main hujan-hujanan, berlagak jadi pawang meminta hujan ke langit. Begitu hujan selesai, saya pulang dengsan bibir membiru badan bergetar. Ibu marah-marah menjewer kuping saya.

29 komentar:

  1. siklus air sudah pasti, tinggal pengelolaannya, jika alamnya tak dapat menampung penyerapan, manusia harus rela berbagi tempat dengan air, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya bu guru, kita harus bersahabat dengan air agar air bisa menyesuaikan diri. Nah, sekarang air sedang marah maka harus interospeksi diri

      Hapus
  2. Jakarta khan memang dulunya rawa sob. Makanya waktu Belanda bikin batavia mereka sudah merencanakan rancang bangun kanal-kanal banjir. Karena mereka memang paham daerahnya rendah. Sayangnya kita gak mengikuti kebajikan dan kebijakan ini, main asal saja bangun sana sini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setelah tahu bahwa memang kondisi jakarta adalah rendah, maka sudah barang tentu ada aturan-aturan alam yang harus dipatuhi agar tidak tergenang oleh air. Masalahnya ya itu, ndak ngikuti kebijakan dan kebajikan (istilah bagus ini mas)

      Hapus
  3. Menurut saya : Penyebab banjir, :
    1. berkurangnya daerah resapan
    2. pendangkalan sungai, perlu dilakukan normalisasi sungai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuuu
      Mari kita buat resapan air di tempat kita sendiri-sendiri. Kemudian menjaga sungai dari sampah yang membuat sungai menjadi dangkal

      Hapus
  4. Yah tempat air ditempati. Datang hujan yang punya tempat cuma mau menempati tempatnya. Sebenarnya bukan banjir, hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hujan hanya mencari tempatnya. dalam proses mencari itu, ya airnya kemana-mana

      Hapus
  5. setuju sob, jakarta tidak akan terbebas dari banjir,bukan doa tetapi dari segi penduduk disana yang hampir tidak menyisahkan ruang kosong,sehingga air bingung akan mengalir kemana, yang akhirnya terjadi genangan dan secara terus-menerus ditambah dengan hujan,maka terjadilah genangan yang membesar dan meluas. banjir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sudah aturan alam. Bahwa air membutuhkan jalan untuk meresap ke dalam tanah. kalau tanahnya ditutup semua, ya airnya tetep menggenang

      Hapus
  6. pulang-pulang hujan terus demam ya, saya waktu kecil juga pernah, hujan-hujan ikut teman-teman mancing di kali, terus pulangnya kedinginan dan jadilah demam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang sakit kadang enggak. Tergantung kondisi tubuh saat itu. Kalau pas lagi fit ya kena marah sama ibu, kalau langsung jatuh sakit, wahahahaha ibu langsung panik

      Hapus
  7. mau ikutan Ibunya Pak Mandor, njewer kuping anaknya....
    karena begitu rajinnya berpikir tentang membuat beton di dasar sungai....
    hahahaa... :D :D

    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga anak-anak. Masih berpikiran sebatas yang didapat dari gurunya.

      Hapus
  8. iya. perlu ruang kosong untuk serapan air. juga itu tuh, budaya membuang sampah. nyatanya sampe sekarang masih aja masyarakat banyak yang buang sampah sembarangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sampah di sungai memang sudah menjadi masalah serius sekarang. Namun para pembuang sampah tidak menyadarinya, hingga akhirnya terjadi banjir. Meski terjadi banjir pun tetep saja diulanginya membuang sampah di sungai

      Hapus
  9. Kota tempatku merantau juga kena banjir, bahkan banjir bandang... Sungainya memang banyak yang sudah dangkal, tanah resapan berkurang dan banyak yang buang sampah sembarangan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaa harus dibuat mulai sekarang, resapan air itu. Apalagi tentang sampah, itu masyarakat harus segera disadarkan. Jangan pingsan terusss

      Hapus
  10. Haha.. dunia anak...
    Hujan-hujanan itu sangat menyenangkan... tapi dulu. kalo sekarang sih emoh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa beneerr, jaman dulu main hujan-hujanan seger sekali
      Sekarang kok kena hujan sedikit langsung pusing yaa

      Hapus
  11. He3 lucu senyum sendiri memabacanya : "Begitu hujan selesai, saya pulang dengsan bibir membiru badan bergetar. Ibu marah-marah menjewer kuping saya" :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenangan masa kecil. Kadang hal-hal nakal waktu kecil itu terasa lucu sekarang. Ternyata dulu saya bisa bandel seperti itu

      Hapus
  12. bahkan tanpa disadari tubuh kitapun megandung air separuhnya,jadi air sudah menjadi bagian bagi kehidupan,,,

    dan jakarta banjir juga akibat ulah masyrakatnya,yang tak memberi jalan pulang pada air mengalir,tertutup oleh beton beton dan aspal aspal...

    mandi hujan mengingatkan saat kecil,menyenangkan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pikir ada benarnya juga bu guru bicara tentang air sahabat manusia. Maka kita pun harus memperlakukan air sesuai dengan sifatnya. Kalau air sudah tidak bersahabat malah yang repot kita semua.
      Masa-masa kecil maen hujan-hujanan sungguh menyenangkan

      Hapus
  13. Masa hujan-hujanan yang berkesan meski berbonus jewer ya Mas.
    Seandainya tiap keluarga memberi jalan air meresap ke tanah (mis dengan lubang biopori), perumahan menyisihkan sebagian jalan berpaving dst air sahabat kita tidak mencari jalan sendiri ya Mas.
    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mari kita berbaik hati dengan air, semoga dengan bersahabat dengan air maka air pun akan berbaik hati dengan manusia, Menumbuhkan kehidupan dan meneruskan kehidupan di bumi.
      Sungguh menyenangkan masa kecil dengan hujan. Saya gak tahu lagi gimana anak-anak sekarang ketika datang hujan, apakah masih lari-larian atau terkurung di dalam rumah

      Hapus
  14. mari berkebun nanam pohon :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaaa mbak ely mampir ke blog saya, sungguh suatu kehormatan.
      Mari menanam pohon sebanyak-banyaknya. Bukan hanya jargon belaka, menanam pohon berarti juga merawatnya hingga besar, hingga ditebang pun juga menyediakan pohon penggantinya.

      Hapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih