Kamis, 25 September 2014

Kesempatan

Siang itu tampak ramai. Warung ini dipadati oleh karyawan pabrik yang sedang kelaparan. Maklum, mereka ingin sedikit memanjakan perutnya dengan membeli makanan "enak". Definisi enak disini adalah yang relatif lebih daripada makanan yang disediakan oleh pabrik. Enak di sini artinya adalah bisa nambah lauk apa saja yang diinginkan.

Dengan wajah yang sedikit dipaksakan, seorang teman mendekati saya yang sedang makan. Ada semacam kesepian di raut wajahnya yang disembunyikan di ulasan senyumnya. Ternyata keramaian warung ini tak selalu menyediakan keramaian di hatinya. Saya hanya pura-pura tidak tahu saja.

Seperti biasanya saling menyapa "Makan apa hari ini mas?"


"Nganu, tumben-tumbenan nih saya makan nasi dicampur kangkung."
Saya sengaja tidak menjawab biasa. Jawaban saya harus luwar biyasa agar obrolan terus berlanjut.


"Wahaha makan nasi kok pakai tumben, biasanya makan apa? Beling?"

"Saya masih waras mas, gak kalap. Hari-hari sebelumnya sih saya makan beras yang dimasak dengan air." Jawab saya ngeles. Kami pun tertawa bersama.
Dia memesan makan siangnya ke mbok Djum sesuai dengan apa yang diinginkan.Nasi, telor bulat bumbu merah, sayur dan segelas teh manis terhidang di depannya.

"Gimana kabarnya usaha?" Dia membuka obrolan sembari makan.

"Bulan ini mencapai 85% dari target yang saya pasang." Saya berusaha untuk menjawab pertanyaan model ini dengan sesuatu yang terukur. Tidak semata-mata jawab baik atau alhamdulillah lancar. Ini juga untuk mendidik diri sendiri agar tidak memberikan jawaban klise, hambar atau terasa ngambang.

"Enak ya sampeyan bisa dikasih kesempatan untuk menjalankan usaha sambil kerja. Sampeyan juga dikasih kesempatan jadi mandor pabrik."

"Ya nggak gitu juga sih." Jawab saya ringan.

"Tidak seperti saya. Saya sepertinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengejar impian. Segala kesempatan sudah saya coba, kesempatan kedua dan kesempatan pintu lain juga saya coba tapi hasilnya tetep saja gina-gini aja. Gak ada perubahan."

Nah, ini nih yang sedari tadi terasa gak enak. Ternyata ada keluhan yang mengganjal di hati seperti ini toh.

"Sampai-sampai saya gak percaya kalau kesempatan kedua itu selalu ada. Saya sudah berusaha mencoba kesempatan lagi yang datang kepada saya.Tapi ya gitu, tetep saja gagal. Tapi tergantung orangnya juga sih." Sambil dia menghabiskan nasi di piringnya.

"Kalau itu saya gak berani jawab, tuh tanya saja sama mbok Djum saja mumpung lagi di sini." Saya menoleh ke posisi mbok Djum yang sudah terlihat berhenti dari kesibukannya.

"Persepsimu ada benernya ada salahnya." Ujar mbok Djum "kalimatmu tentang Kesempatan kedua itu ada, kesempatan itu ada dimana-mana. Tergantung bagaimana orangnya. Itu benar." Lanjut mbok Djum sembari beranjak duduknya mendekat ke tempat saya dan teman saya duduk.

"Namun kalimat: kenapa saya masih belum berhasil juga. Kalimat itu masih harus dirunut lebih lanjut. Logikanya begini, kesempatan itu diberikan kepada orang yang siap."

"Contohnya gimana mbok ?"

"oo banyak sekali ..."

"Coba lihat sepakbola. Playmaker itu akan memilih, bola akan dioper kemana, pasti kepada orang yang siap. Siap lari atau siap menggiring, atau siap menembak di segala waktu. Bukan kepada pemain yang diam atau bingung.

Pameran mebel itu mungkin terlihat biasa saja. Tapi bagi perajin kayu, pameran itu adalah kesempatan bagus karena dia sudah punya beberapa produk untuk dipasarkan.

Pasar malam biasanya kita nikmati keramaiannya. Naah, bagi pedagang asongan, itu adalah kesempatan untuk berproduksi banyak karena potensi penjualan yang besar.

Di jalan ketemu sama orang juragan gula pasir. Pengepul gula pasir di pasar. Bagi beberapa orang mungkin hanya sebatas ngobrol dan makan bareng. Bagi pemilik toko kebutuhan sehari-hari, itu adalah kesempatan emas. Karena bisa mendapatkan harga murah dan pembayaran yang boleh pending."

"Masalahnya, kamu sekarang siap apa?" Lanjut mbok Djum setelah jeda sejenak

Kalau sekarang siap dalam hal pemrograman. Maka gak usah menjadi notaris Akta tanah meskipun kesempatan itu terbuka lebar, bahkan ketika kamu ditawari jadi notaris.

"Jadi, Saya harus siap 100% ya mbok?"

"Jangan salah kaprah dulu, 100% siap itu bukan berarti persiapan sempurna. Bukan berarti semua persiapan tersedia.
Mau nulis malah sibuk mempersiapkan komputer, kertas, kursi, kopi, camilan, bahan bacaan, waktu yang nyaman, tempat tidur, lha kapan nulisnya. Mau nulis ya harus siap untuk menuliskan ide, siap 100% untuk nulis.
Mau jadi notaris, malah sibuk cari tempat kantor, cari rekan kerja, cari sekretaris. Kapan jadi notarisnya. Jadi notaris ya siapkan ilmu tentang hukum, jalin relasi dengan rekan-rekan hukum serta aktif berkecimpung dalam forum yang sama.
Tahu kan maksud saya."

Ada banyak kesempatan di setiap saat. Tinggal ukur kesiapan dirimu. Kesempatan yang ini kesiapan saja 50%, kesempatan yang ini kesiapan saya 75%, kesempatan yang ini kesiapan saya 40%, kesempatan yang ini kesiapan saya 85%.
Maka Tuhan pun tidak tinggal diam. Kesempatan itu diberikan beserta keberuntungannya kepada orang-orang yang siap. "

"Jadi keberuntungan itu bukan jatuh dari langit, bukan tanpa usaha. Keberuntungan itu adalah konsekuensi logis dari kesiapan-kesiapan terhadap kesempatan yang ada. Orang yang siap tapi pada kesempatan yang bukan jurusannya juga gak nyambung. Ada kesempatan tapi orangnya gak siap juga tidak jadi apa-apa."

Kerja keras pada kesempatan yang diambil dengan persiapan yang bagus akan memberikan keberuntungan. Kerja keras pada keberuntungan akan menghasilkan keajaiban.

Maka poin saya begini :
Kesempatan itu diberikan kepada orang yang siap. Keberuntungan itu bisa diciptakan. Keajaiban itu hasil kerja keras."

Temen saya manggut-manggut, saya malah mumet.

21 komentar:

  1. Mbok Djum keren ya mas, tahu playmaker , pasti beliau hobi nonton bola nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satu kegemaran mbok Djum adalah pengamat permainan bola lewat layar kaca alias nonton bola. Sampai beliau bisa tahu apa itu playmaker apa itu gelandang

      Hapus
  2. Mbok Djuuuum... ai lap yu puuul... :)

    BalasHapus
  3. Mbok Djum teka maning. :D
    Saya juga agak2 gimana kalau denger teman ngomong "ah...yang penting daftar dulu. Soal mau ditempatkan dimana nantinya, pikir belakangan". Hish...

    Kesiapan itu sama dg Kompeten, kalau dalam hal pkerjaan ya, Om.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga begitu mbak. Kalau pasrah dengan apa kata nantinya bisa-bisa malah kesempatan itu melayang di tengah jalan ketika sedang menjalaninya. Teman saya di atas berucap : kok hanya gini-gini aja, tidak ada perubahan.
      Artinya ya memang gak dapet itu kesempatannya.

      Hapus
  4. Kalo saya sih.... manggut-manggut sekaligus mumet. :'))

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti mumetnya sama dengan saya dong

      Hapus
  5. Makasih Bang! *langsung semangat deh saya habis baca ini! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasihnya sama Mbok Djum saja. Saya hanya mengantarkan makan siang teman saya yang lagi galau itu

      Hapus
  6. jadi belajar komunikasi di sini..
    supaya pembicaraan bisa lanjut kita juga harus kasih jawaban yang bisa meluaskan topik ya mas...., maka bisa jadi dialog panjang lebar
    kecuali kalau kita emang nggak hobi ngobrol sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena waktu santai, saya memancing obrolan dengan memberikan jawaban yang tidak biasa, begitu bunda.

      Hapus
  7. Kulanuwun Mbok Djum....
    Ikutan belajar memberi jawab dengan kalimat terukur
    Kesempatan emas menikmati penjelasan Mbok Djum tentang kesiapan meraih kesempatan.
    Matur nuwun ya Mas Sus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menjawab pertanyaan dengan kalimat terukur akan menghilangkan kebiasaan jawaban klise. Menjawab klise kadang juga membingungkan.
      Kesiapan pada kesempatan bisa memunculkan keberuntungan kata Mbok Djum

      Hapus
  8. Mbok Djum itu remarkable. Postingannya aufklarung sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan mari makan bareng ke warung Mbok Djum, kita belajar bareng

      Hapus
  9. mbok Djum nya sangar Mas.. ngerti betul manis getir nya kehidupan.. bijak! :)

    dan ,mbok Djum itu senantiasa awet muda.. meskipun setua apapun beliau, tetap saja dipanggil mbok.. bukan embah.. hehe *gagal fokus..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi begitu, kalau ada kesempatan ayo lah kita mampir makan bareng ke sana

      Hapus
  10. Whoaaaa...aku merasa tersindir sama mbok Jum baaaang...
    itu akuuuuu...
    kalo mau nulis sibuk nyari cemilan, trus sok pemanasan dulu buka fb, twiter, yutub, akhirnya malah gak jadi nulis...bhuahahaha...

    Mbok Jum keren abis lah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti persiapannya adalah mempersiapkan persiapan. Ya gitu jadinya hahahaha

      Hapus
  11. kesempatan itu jarang loh yang datang dua kali

    BalasHapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih