Begitu terjadi bencana, maka bermunculan berita bahwa bencana tersebut sudah diramalkan. Perceraian artis, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, pesawat jatuh. Bahkan ada yang menyebutkan waktunya secara lebih akurat, akhir tahun! Hebatnya lagi, ramalannya ramai dibicarakan setelah sebuah kejadian terjadi.
Pertanyaannya lebih kritis lagi, kalau sudah diketahui akhir tahun ada bencana mengapa tidak bisa dicegah. Minimal diketahui dulu sehingga meskipun bencana betul-betul terjadi, antisipasinya sudah dipersiapkan sehingga kemungkinan selamat lebih besar.
Maka muncul komentar "Bencana di tangan Tuhan, hidup mati seseorang juga di tangan Tuhan. Bagaimanapun juga antisipasi yang dipersiapkan tidak akan mungkin lolos dari ketetapan Tuhan."
Lho ngapain pakai ramalan segala.
Dan anehnya, banyak orang Indonesia heboh dengan berita-berita ramalan tersebut. Banyak share ramalan itu dengan maksud yang entah apa. Di bawah masih saja dituliskan "Kebenarannya masih belum bisa dikonfirmasi" atau "harap hati-hati" "Wallahu A'lam"
Ayo berpikir logis saja. Kenapa kok gak ada ramalan tentang Jakarta akan terendam banjir. Banjir Jakarta termasuk bencana juga kan. Dan ramalannya sudah hampir mendekati benar ketika terjadi hujan lebat, pasti jalan protokol macet luwar binasa karena banjir.
Kenapa kok gak ada ramalan tentang harga cabe naik, harga daging sapi naik, harga ayam naik ketika mendekati puasa dan perayaan hari raya Idul Fitri. Ramalan yang hampir mendekati kenyataan malah tidak mendapatkan respon apa-apa, tidak ada berita heboh tentang ramalan banjir dan harga naik.