Rabu, 05 Oktober 2016

Tidak Percaya



Yang bilang "saya hanya percaya sama Allah mas" segera ke laut saja deh. Jangan lanjutkan baca.

Memang susah menghadapi orang yang tidak percaya ini. Apapun bisa dijadikan alasan untuk mengklaim terhadap sesuatu yang sudah ada. Ketika data sudah diberikan, harus dicari dan dipikirkan apakah hasil tersebut valid atau tidak. Apakah ada kemungkinan untuk dimanipulasi. Apakah ada sebuah konspirasi yang lebih besar di balik data yang diberikan. Ketidak percayaan yang sangat besar untuk sebuah data.


Kita berandai-andai saja. Seumpama hasil tes DNA Kiswinar terbukti negatif dan Kiswinar diputuskan bukan anak Mario maka kubu pro-Mario jelas akan bergembira sorak-sorai. Namun bagaimana dengan para pembela Kiswinar?

“Hahaha! Yaah, beginilah permainan orang kaya. Di negeri ini orang kaya bisa berbuat apa saja. Lha wong jaksa dan hakim di level Mahkamah Agung saja bisa bersimpuh di hadapan uang, apalagi cuma petugas laboratorium yang mengetes DNA! Kalau Mario yang penghasilannya puluhan miliar per bulan sudah memakai cara-cara begitu, Kiswinar bisa apa, coba? Ha? Sudahlaaah, lihat saja mukanya. Cara senyumnya, bibirnya, otot-otot pipinya, sudah tidak bisa menipu. Kiswinar anak Mario. Cobalah melihat pakai hati!”

Demikian pula sebaliknya. Jika hasil tes DNA berpihak kepada Kiswinar, dan laboratorium menyatakan bahwa Kiswinar positif anak Mario, maka pro-Kiswinar yang akan bersorai.

Tapi apa lantas pro-Mario percaya? Hehehe, ngimpi. Ingat, pro-Mario juga kokoh berdiri di atas iman mereka sendiri. Mereka bakal segera menemukan teori, bahwa kekuatan bisnis besar yang menggerakkan Kiswinar telah turun bertindak, lalu membuat segalanya menjadi mungkin.

Apakah kekuatan bisnis semacam itu ada? Bagi pro-Mario, jelas ada.

“Coba lihat, sebelum tayang di tivi yang sekarang, berapa tahun Pak Mario jadi tambang uang bagi stasiun tivi sebelumnya? Jelas banget, pindahnya Pak Mario bikin gerah mereka yang kehilangan duit! Kelen masih ngira kalo nggak ada orang yang kepingin menghancurkan Pak Mario? Mikir!”

Maka, alih-alih mengakui hasil lab, kaum pro-Mario akan bersama-sama memberikan dukungan moral kepada junjungannya, lengkap dengan kutipan ulang nasihat indah ala Golden Ways dan Super Show.

“Masalah datang tanpa memilih. Masalah adalah rahmat yang tidak kita sukai, agar kita meninggalkan yang kita sukai tetapi yang tidak baik bagi kita. Tak selamanya seseorang mengalamai kesusahan, dan tak selamanya seseorang mengalami kemudahan. Tetap teguh, Pak Mario. Orang baik selalu mendapatkan ujian di puncak kesuksesan. Orang-orang yang iri juga terus bermunculan. Kami #SahabatMario selalu percaya Bapak.”

Setelah itu kita beralih kepada PilGub. Lihat saja pemaparan hasil survey yang tampil. Apakah orang menerima data itu sebagai bagian dari evaluasi? hahaha gak mungkin. Hal tidak percaya pada sebuah data hasil survey langsung meluncur. Komentar-komentar miring terhadap hasil langsung bermunculan,

"Masih terlalu dini untuk menyimpulkan."

"Lembaga itu kan dibayar oleh salah satu calon."

"Lha wong lembaga abal-abal, paling hasil surveynya juga abal-abal."

Owalah, antara percaya dan tidak percaya. Mumet.
Apa susahnya sih percaya saja dengan data yang disajikan, toh yang mengeluarkan juga sudah bersusah payah membuat data seperti itu.
Apa mungkin kita sudah kehilangan kepercayaan di negeri ini?
Ahh ... sudahlah ...

Menjawab paragraf awal di atas :
Bukan kata percaya yang kita jadikan masalah keimanan, tapi kalimat setelah kata percaya itulah yang harus kita fokus pembahasan.
Punya sakit jantung parah, kita percaya kepada dokter untuk menangani penyakit jantungnya. Kita tidak percaya kepada astronot ataupun ahli fisika untuk menangani penyakit jantung. Disamping itu, orang kita juga percaya bahwa kesembuhan itu ada di genggaman Allah SWT.

2 komentar:

  1. Kulanuwun Mas Sus, apa khabar?
    Hehe masuk ke ranah, maukah percaya selain bisa dipercaya. Salam

    BalasHapus
  2. Tetapi wajahnya mirip ya, kiswinar sama pak mario teguh

    BalasHapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih