Sabtu, 01 Maret 2014

Rayuan Gombal

Pagi hari memasang wajah cerah. Tumbuhan pisang didatangi burung prenjak bercicit. Beterbangan mengitari sebentar kemudian hinggap. Bercicit lagi, seakan-akan memberi tahu burung-burung yang lain di sini ada pisang masak pohon, tapi hanya sebiji. Sedangkan burung prenjaknya sendiri sedang membongkar daun pisang yang bergulung-gulung. Biasanya sih ada serangga atau ulatnya untuk dimakan. Burung prenjak berkicau lagi, sepertinya memanggil teman-temannya untuk memberi tahu bahwa dia sudah mendapatkan makanan pagi ini.

Aku tahu hari ini engkau akan datang sesuai janjimu kemarin. Wajah riang hati senang. Rasanya sudah 3 tahun tidak bertemu denganmu wahai Perempuan Desir Angin. Tentang konfirmasi keberangkatanmu kemarin sungguh sangat menentramkan aku. Sungguh membuat hatiku berbunga-bunga, akhirnya engkau datang juga. Akhirnya aku bisa menemuimu lagi, ditengah-tengah kesibukan kerjamu dan kesibukan kuliahku.

Terdengar ketukan pintu. Sosok Perempuan Desir Angin berdiri dengan anggun. Berlatar belakang sinar mentari, bercahaya. Bunga-bunga berterbangan di sekelilingnya, seakan kedatangannya teriring dengan hujan bunga. Angin bertiup menerbangkan helai-helai bajunya. Di depan pintu dia tersenyum manis, tangannya terulur ke depan. Dalam gerakan lambat, gerakan slow motion. aku menyambut kedua tangannya untuk kubawa masuk.

Ternyata aku yang terlalu berkhayal.

Kemudian dia berjalan cepat, matanya tidak tertuju kepadaku. Kedua tangannya menyambut ibuku, mencium telapak tangannya, mencium pipinya dan memeluknya.

“Baru datang ya kamu, istirahat dulu ya.”

“Iya.”

Setelah meletakkan tasnya di kursi, tanpa banyak omong dia dia membereskan meja. Semua majalah dan koran dikumpulkan jadi satu. Album foto ditata rapi ditaruh di bawah meja. Kelambu dibersihkan, cendela dibuka. Dia mengambil sapu, menyapu seisi ruang tamu.
Aku hanya bisa bengong melihat apa yang dikerjakannya. sementara ibu kembali ke belakang melanjutkan pekerjaan hariannya.

Selesai dengan kegiatan di ruang tamu, tanpa permisi dia langsung masuk ke dalam kamar. Waduh! Buku-buku Digital Signal Processing, Kalkulus II, Signal Theorem dan buku-buku lain langsung dirapikan. Kertas-kertas berserakan dikumpulkan jadi satu.

“ahh jangan yang itu. Itu masih harus dipahami sebelum dipakai dalam analisis.”

Tapi dia tidak peduli. Diktat fotokopi, coretan itung-itungan dan kertas belajar yang lain juga dikumpulkan jadi satu, ditata rapi. Padahal aku masih butuh semua kertas-kertas itu untuk dipahami, dikumpulkan analisisnya. Kalau sudah begini nanti nyari-nyari lagi.

Baju-baju yang tergantung di belakang pintu diambil semua. Lumayan banyak bajuku yang tergantung. Mulai dari jaket yang beraneka logo hingga baju buat berangkat kuliah.

“Ini umurnya sudah berapa hari tergantung di sini?” Sambil memandangku dengan teduh namun tajam.

Belum sempat aku jawab, dia sudah ngomong lagi

“Jorok banget sih, kamu jadi cowok!”

Semua baju dikumpulkan jadi satu ke dalam bak. Halah. Kemudian langsung diguyur dengan air, direndam.

“Sekarang cuci!”

Aku masih ternganga dengan kejadian ini. Padahal kan aku sudah rapi dalam menyambutmu di depan pintu tadi. Sekarang malah disuruh nyuci. Apa-apaan ini. Seumur-umur belum pernah ibuku ngomelin anaknya seperti ini.

“Kenapa diem aja?! atau saya yang nyuci?”

“eeee ... jangan, jangan. Saya aja yang nyuci.”

Aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Geleng-geleng kepala. Ini gimana sih, ibu kok hanya diam saja anaknya diomelin sama orang. Ibu hanya tersenyum saja, sementara Perempuan Desir Angin langsung menyambar wortel, buncis, untuk dipotong-potong. Bantuin ibu masak di pawon.

------

Selesai juga nyucinya. Ibu juga selesai masak, Perempuan Desir Angin akhirnya mau membagi senyumnya kepadaku. Plong rasanya.

Mengalirlah cerita-cerita tentang suasana kerja di tempatnya. Cerita teman-temannya, cerita pimpinannya, cerita tingkah laku customer dalam memilih barang meluncur ringan. Aku menikmati ceritanya, heboh banget.

“Akhir-akhir ini Ray sering menghubungiku. Gimana Ka?”

Deg, serasa kenikmatan ceritanya berhenti begitu saja. Masih ada rasa cemburu di dadaku mendengar namanya. Memang sih aku tidak selalu punya dana untuk menghubunginya setiap hari, apalagi datang ke tempatnya. Tapi kan aku juga mencintaimu say, dan engkau tidak menolak, seperti halnya engkau tidak menolak Ray saat ini.

“Aku bingung ka, dia akhir-akhir ini sering SMS.” katanya lagi

“Lha kamunya mau apa enggak? Masih suka kan?”

“Enggak tahu ya” Jawabnya bimbang sembari memandangiku. Ya, memang matanya mengatakan bingung.

Ting, sebuah SMS masuk melalui HP nya.

“Tuuh kan, Ray masih SMS lagi seperti ini”

“Isinya apa?”

“I miss you, I love you.” sambil menyerahkan HP nya kepadaku.
 Deng! aku baca sendiri tulisannya, bahkan SMS-SMS sebelumnya.  kubaca semua, dia tidak bereaksi aku bongkar semua SMS dihadapannya.

“Aah ini pasti SMS gombal, biar hatimu luluh.” Jawabku ringan

“Masa sih? Dia biasa kirim SMS seperti itu ke aku” dia berusaha meyakinkan diri. “Iya sih, memang gombal sepertinya. Padahal, saya ga suka lelaki yang tukang gombal!” lanjutnya.

“Tapi, dirimu kan seneng digombalin?” begitu kataku dengan sedikit menggoda.
Dia hanya tersenyum, wajahnya senang.

Obrolan pun beralih dengan topik yang lain, tetap dengan bercanda tentang kegiatan seputar kerja dan kuliah.

“Kalau nanti kaka lulus kuliah, mau jadi apa?” tanyanya kepadaku

“Aku mau jadi orang saja.” Jawabku ngasal

“Yee, emang ada yang mau jadi ayam.”

“Mau ... kerja buat nyari penghidupan yang layak. Mau jadi orang di masyarakat.” Jawabku tetap ngasal. Karena semua orang akan melakukan hal itu tanpa ditanya.

“Ngomong-ngomong, kalau dirimu nanti punya istri, pengennya seperti apa ka?” Pertanyaan sepertinya agak serius. Atau ada yang tersirat di dalam pertanyaan itu.

“Emm, apa ya? Mungkin yang pertama, harus seiman denganku.” Begitu kataku seolah-olah serius dan sok religius.

“Kalau kriteria cantik nomor berapa ka?” tanyanya berikutnya.

“Lha hahaha... nomor berapa ya? masuk empat besar deh!”

“Terus apalagi?” tanyanya lagi.

Ditanya begitu aku malah tambah bingung. Maka aku gunakan jurus converse, jurus terbalik. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaaan.

“Kalau kamu sendiri gimana?”

“Kalau aku sih ingin punya suami yang…” berhenti sejenak sambil berpikir “Laki-laki yang beriman, teguh pendirian, kuat, penyayang, cerdas.”

“Apalagi?”

“Dan berani menghadapi tantangan hidup bersamaku!” ujarnya dengan bangga.

“Wah, kalau begitu aku ga masuk kriteriamu dong?” kataku sambil senyum becanda.

“Emang mau daftar? Belum dibuat formulirnya!” katanya dengan sedikit sewot.

“Engga ah, ga jadi daftar! Takut ditolak! Daripada ditolak, mendingan engga daftar sekalian!” kataku sambil tertawa hahahaha…

“iihh kakaaaa ..... “ Perempuan Desir Angin gemes banget.

Aku tertawa ngakak gak habis-habis. Tapi cubitan di punggungku gak berhenti-berhenti. Setelah tawa mereda aku berujar lagi.

“Beruntung ya laki-laki yang nanti bakal mendapatkanmu?”

“Kenapa ka?” dia pura-pura ingin tahu.

“Ya iya lah, kamu tuh udah cerdas, baik, sudah kerja, cantik lagi!” jawabku dengan jelas.

“Ah masa sih?”

“Kayaknya, kriteria wanita idamanku terpenuhi deh sama kamu.” kataku padanya sambil tersenyum. Semoga hatinya sedang berbunga-bunga. Terlihat wajahnya yang bersemu merah.

“Tapi sayang, kriteriamu tadi terlalu tinggi! Aku…” Aku memasang wajah pura-pura sedih

“Yaa itukan idealnya. Kalau ga ada yang ideal, ya saya terima deh yang mendekati ideal,” jelasnya dengan tegas.

Kemudian Perempuan Desir Angin kembali ke tentang SMS dari Ray.

“Emm, jadi gemana nih dengan Ray ini?” tanyanya lagi.

“Gimana ya? Ya terserah kamu….,” jawabku datar dengan hati sedikit kesal (atau cemburu lagi)

“Tiap hari tuh, Ray selalu bilang cinta, rindu. Bilang miss u lah, bilang I love you pula, ah pokoknya romantis terus deh,” dia membela.

“Ah kamu ini gimana sih? Kata-kata seperti itu kan biasa. Cuma gombalan biasa. Gombalan yang ga bermutu.” Jawabku setengah bercanda

“Emang kamu bisa ngegombal?” tanyanya spontan.

Demi mendapat pertanyaan itu aku senyum-senyum dan kemudian tertawa.
“Kalau aku yang ngegombal, yang jelas gak akan seperti Ray! Dan tentunya lebih hebat!” begitu kataku dengan percaya diri.

“Coba gimana cara kamu ngegombal?”

“mmm…” Aku masih diam

“Ah kamu ga bakalan bisa ngegombal! Bisanya cuma kuliah eksak doang…” ledeknya kepadaku

“Hahahahahahaha…. kamu tuh ga nyadar yah! Dari tadi tuh banyak lho kata-kata saya yang ngegombalin kamu,” begitu kataku keceplosan

Perempuan Desir Angin kaget, kemudian ngamuk-ngamuk, bukan lagi cubit, sekarang malah mukul-mukulin. Teringat segala ucapan kata-kataku barusan. Dia sedikit kesal dan marah. Sekarang malah diam, gak mau bicara.

Aku berusaha mengajak ngobrol lagi. Tetapi dia tetap diam, jutek. Segala kata-kata dikeluarkan, tetap saja diam. Aku berpikir, mencari cara agar bisa kembali membuka obrolan dengannya.

“Maaf ya yang tadi,” dengan lembut aku mulai mengajaknya bicara walau dia tetap diam. “Ya, walau kata-kata saya yang tadi banyak gombalnya. Tapi…” Aku berusaha mengeluarkan jurus ampuh.

“Tapi, gombalan saya itu ga semuanya bohong kok,” Aku berusaha menetralkan suasana. Dia lagi-lagi masih diam.

“Separuh gombalanku tadi itu jujur kok! seperempat gombalanku yang lain setengah jujur, dan sisanya nya lagi itu baru cuma buat nyenengin kamu doang,” begitulah kata-kata ampuh yang kukeluarkan.

“Aaaaaaah, kamu gombal lagi nih! Ga ah, ga percaya! Kamu gombal lagi kan?” Perempuan Desir Angin mulai terpancing bicara walau masih sedikit marah.

“Duh, kamu ini gimana sih. Itukan penjelasanku, masa ga percaya juga?” kataku yang berharap dia mempercayainya.

“Dasar kamu itu yah! Ngegombal aja pembagian!” dia masih pasang muka marah.

“Separuh kata-kataku tadi jujur kok, serius!” Aku meyakinkan.

“Udah ah jangan gombal terus!” dia pura-pura kesal. Walaupun sebenarnya hatinya senang.Senang juga karena aku sudah jujur baru saja ngegombalin dia. Cara ngegombal yang aneh, begitu mungkin yang ada di pikirannya. Mulutnya tersungging senyum. Mereda juga marahnya

Padahal aku setengah mati bersilat lidah untuk memperbaiki kesalahan omong barusan. Berkelit dari blunder yang sudah kulakukan.


19 komentar:

  1. Pak Mandor harus belajar lagi untuk menggombal dengan kata2 yang gombal , bukan kata2 yang gombal nya gak jelas menggombal atau gak...
    ( wedeh...kok komen bunda jadi mbulet gini yaaa.....hahaha.. ) :D :D

    yang jelas, Pak Mandor gak usah pake gombal2 an lah...
    Perempuan Desir Anginmu sudah tau , apa yang dirasakan oleh Pak Mandor terhadap nya ...karena bunda sudah cerita tadi sama dia..... :P

    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perempuan Desir Angin ternyata seneng digombal bunda, baru tahu sayanya hahahaha
      Kenapa nggak bilang-bilang dari dulu, makanya saya salah tingkah teruss

      Hapus
  2. separyuh gombalku... terbang bersama dirimu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung ambil gitar menerbangkan angan-angan sang Perempuan ituh

      Hapus
  3. Sosok perempuan Desir Angin sangat mengenali aneka ragam dan tingkat derajat rayuan gombal.
    Selamat melanjutkan kiat berkelit dari blunder. Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaha Bingung juga kalau sudah melakukan blunder. Jadi susah memperbaikinya
      Semoga hubungannya baik-baik saja

      Hapus
  4. Penasaran .. Siapakah perempuan desir angin itu ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan-kapan kalau ada waktu akan saya kenalkan dengannya
      Jangan naksir yaaaa

      Hapus
  5. Ampuuuun dj... udah banyak gombal di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaha gombalan di rumah ternyata ampuh untuk merayu

      Hapus
  6. ya ampuuuun bang Mandor...
    mbok yah si perempuan desir angin ituh jangan di gombalin dan dikasih harapan palsu gitu atuh laaaah...
    Langsung dikasih kepastian aja deh yaaaah..hihihi...
    *selalu maksa bikin hepi ending ala drama korea*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho ini sebenarnya mirip-mirip drama korea cuman sentingannya di Barat. entah barat yang mana gitu xixixi
      Sekali-kali perempuan desir angin digombali kan gakpapa toh.

      Hapus
  7. Ini jujur kok, jujur ngegombalnya, hehehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha iya, kan sudah ngomong kalau saya jujur nggombalnya hahaaha

      Hapus
  8. ternyata ada tingkatannya ya mas negombal itu ? hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. tingkatan-tingkatan itu hasil akrobat saya sendiri mbak, maklum lah hampir kehabisan kata-kata

      Hapus
  9. Balasan
    1. naah maunya seperti ini, tingkat dewa

      Hapus
  10. wuih... top banget deh gombalnya..:D

    BalasHapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih