Kamis, 13 November 2014

Past and Now

Dalam melihat kisah sukses seseorang, seringnya disebutkan kondisi sekarang ketika sudah berhasil mencapai hal ini itu. Sekarang sudah punya mobil BMW, sekarang sudah punya rumah besar, hotel, villa. Sekarang usahanya sudah maju, pabriknya ada 6 di kota-kota besar.

Dulu dia anak orang miskin, sekarang kaya. Dulu dia sekolah gak sampai,  sekarang bisa mendapatkan penghargaan. Dulu dia punya sepetak tanah, sekarang punya ribuan petak tanah. Coba lihat polanya. Dulu - sekarang, dulu - lihat sekarang, dulunya - sekarang. Seakan-akan kita melihat awal dan akhir saja. Atau lebih parahnya lagi kita hanya mementingkan hasil akhir.

Maka seringnya yang dilihat hanya mereka-mereka yang berhasil untuk dibanding-bandingkan. Dan mereka-mereka yang gagal untuk dijadikan pelajaran jangan jadi seperti itu.

OK perbandingan contoh di atas bisa saja berlaku untuk orang awam, selesai masalah. Orang awam pasti akan gumun (terpesona) dengan cerita-cerita seperti itu.


Tapi kita kan sekarang sudah pinter. Sudah melek internet dan arus informasi bisa diakses dengan mudah.

Ada sesuatu yang tersembuyi dari cerita dulu-sekarang itu. Ya, benar! proses perjuangannya tidak diceritakan.

Pola dulu-sekarang yang tanpa menceritakan prosesnya cenderung hanya euforia belaka. Hanya akan menjadi cerita penghibur sebelum tidur.

Bagi orang-orang yang berpikiran pendek malah lebih berbahaya. Keberhasilan akan dianggap biasa, kesuksesan dipandang sebagai pencitraan. Cenderung menggampangkan pencapaian seseorang.

"Anak singkong saja bisa jadi pemimpin perusahaan."
"Coba lihat, gak lulus aja bisa jadi bos Facebook."
"Kalau tidak lulus sekolah trus jadi menteri, saya juga bisa!"
"Kalau blusukan trus bisa jadi Presiden, saya juga bisa!"

Maka dengan garang saya langsung memerintahkan kepadanya untuk segera keluar dari sekolahnya sekarang juga.

"Trus setelah keluar sekolah saya kerja apa, makan apa? Kamu mau nanggung?"
"Lho katanya mau jadi presiden, sekarang makan saja gak jelas."

Ketidak-tahuan tentang proses membuat orang tidak mempunyai daya juang. Tidak siap dengan resiko dan konsekuensi yang akan terjadi. Menyalahkan orang lain ketika ditemui kebuntuan.

Yang lebih nyesek lagi cerita-cerita yang kondisinya menurun di mata masyarakat. Dulu dia kaya raya banyak harta, sekarang cuma jadi buruh kecil. Dulu dia dihormati sekarang sudah jadi orang kecil.

Atau yang lebih parah lagi stigma yang tidak jelas seperti : ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau nanti hanya di dapur saja. Lucu sekali kan.

Tidak ada pelajaran yang bisa diambil kalau hanya mendengar awal dan akhirnya saja. Justru cerita yang lebih menarik ada pada prosesnya. Cerita-cerita proses mengantar keberhasilan lebih menggali kepada perjuangan dan kerja keras. Bahkan cerita proses kegagalan pun akan membuat lebih bijak dalam melihat mengapa dia bisa gagal.

Untuk mendapatkan buah segar dari Malang, harus standby di pasar jam 1 malam setiap hari kamis. Ternyata ikan mas itu sangat tahan banting terhadap penyakit asalkan diberikan air yang mengalir. Mengurung diri di kamar, coding setiap hari hingga tidur 2 jam setiap hari demi terbentuknya aplikasi ini. Pencarian customer akan lebih efektif dimulai dari orang-orang yang dikenal. Penyebaran brosur itu lebih diarahkan kepada mereka-mereka yang sedang duduk atau makan, akan lebih banyak kesempatan terbacanya. Riset yang dia yang dilakukan, 86% mengatakan transaksi online lebih memudahkan sedangkan sisanya mengatakan tambah ribet. Makanya dia memutuskan untuk fokus melayani online saja.

OK saya kira kalian bukan anak manja. Setiap keberhasilan atau kegagalan, mohon sekalian tanyakan prosesnya. Jangan hanya mendengar awal-akhir saja.

40 komentar:

  1. Soalnya prosesnya bikin lutut gemetar biasanya, makanya suka di skip aja Pak :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. naah, ketika proses diceritakan harusnya membuat kita berpikir. Bahwa dia pantas untuk mendapatkan itu karena usahanya sepadan.
      Kecenderungannya kan orang lebih suka melihat keberhasilan (dan kegagalan) saja

      Hapus
  2. Proses berdarah-darah yang dilewati itu membuat nyali ciut kalau di kupas dan di ulas secara lengkap. Makanya lebih sering hasil akhirnya yg di ulang-ulang. Aku bukan anak manja kok Bang Mandor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya, kalau sudah mendalami proses dan kegiatan yang dilakukan, akan sangat terasa perjuangannya. Dari proses yang berdarah-darah itulah kita bisa mempelajari hal-hal yang seharusnya dilakukan.
      Yakin dah kalau mbak Salma bukan anak manja karena sudah ditempa oleh proses yang keras hihihii

      Hapus
  3. Makasih uda mengingatkan ya, Bang.. :)

    Emang seharusnya gitu, kita ngeliat proses gimana orang tersebut jadi sukses, bukan apa aja yang uda dicapai si orang sukses tadi.. Trus ngebandingin sama kita, sanggup ngga sih ngejalanin proses kayak dia? Seenggaknya kita jadi lebih bersyukur sama apa yang kita jalanin sekarang. Bisa termotivasi, tapi bukan obsesi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dengan mendengarkan prosesnya, cerita akan lebih menarik. Bahkan biasanya kesimpulan yang didapat adalah ternyata yang dia lakukan itu sama dengan yang saya lakukan. Hanya saja ketahanan dia dalam menghadapi masalah lebih kuat sehingga patutlah dia berhasil.

      Hapus
  4. menikmati postingan ini dengan tangan sedeku, mata terpaku, mencanangkan alinea terakhir di kalbu.
    Terima kasih Mas, mari bersama berproses.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah terima kasih mbak Prih, saya sangat tersanjung tulisan saya bisa berguna. Mari kita berproses bersama di jalur masing-masing

      Hapus
  5. Bener banget Baaaang. Kondisi ini juga saya alami dan adek. Orang di kampung selalu nanyanya dititipin ama siapa kok bisa kerja di sana-sini tanpa mau tahu prosesnya. Proses penting sekali memang Bang. *tiba-tiba keinget kerjaan yang harus melalui proses sebelum jadi hasil akhir. Hahahahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah masih banyaak orang-orang yang menggampangkan proses. Padahal kalau diurai akan sangat panjang dan melelahkan. Yang bercerita saja akan bosan apalagi yang hanya berpikiran pendek tentang kesuksesan.

      Hapus
  6. Setuju setuju setuju sekali sama Bang Mandor. Padahal yang penting adalah proses. Walaupun dulu kaya raya dan sekarang hidup prihatin tapi kalau proses membuatnya lebih dekat dengan Tuhan .. bukankah itu lebih baik dan lebih berarti?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar bunda, meskipun kondisinya sekarang berbalik dari kaya raya menjadi miskin. Harus dilihat kenapa dan prosesnya. Bisa jadi karena sakit atau kecelakaan. Dengan begitu kita akan lebih bijak dalam bersikap dan berkomentar.

      Hapus
  7. learning by doing, tidak mudah menyerah dan berani mengambil risiko. siap pak mandor :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyata sampeyan sudah bisa membaca apa yang tersirat dari postingan saya kali ini meski tidak saya tuliskan secara gamblang.
      Terima kasih telah berkunjung ya

      Hapus
  8. mampir ke sini, ya bang mandor :D
    trus jadi keingetan masa lalu suami. meskipun saya bukan saksi mata proses beliau bertransformasi, tapi saya yakin beliau bekerja ekstraaaa keras untuk bisa menjadi sekarang. nice sharing :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mampir
      Saya pikir suami mbak adalah seorang pekerja keras. Itu sangat bagus, apapun pekerjaan jika dilakukan dengan bekerja keras dan kesungguhan hati maka berkahnya terus mengalir sampai ke anak cucu

      Hapus
  9. untuk dpt kata 'sekarang' itu butuh proses, gak boleh menyerah.
    kayak hidup aja, memangnya kita lahir tiba2 jadi gede? hehe..
    kita belajar merangkak, berjalan dan beradaptasi dg kehidupan remaja, dewasa dll.

    Mantap postingannya.
    apa kabar, mas?
    udah lama gak mampir kesini ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kondisi sekarang adalah penjumlahan dari perjuangan-perjuangan yang dilakukan sebelumnya. Maka aneh sekali kalau membandingkan hasil tanpa melihat proses yang telah dilakukan sebelumnya.

      Melly sehat kan ...

      Hapus
  10. jika ada yang berkata yang penting niatnya, yang penting hasilnya, atau yang penting usahanya, maka saya memilih ketiganya. ya niat, ya ikhtiar ya hasilnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya benar abi sabila, awal proses dan akhirnya harus tetap diperhatikan agar tidak menyepelekan yang telah dilakukan atau dicapai

      Hapus
  11. Paradigma hanya melihat 'hasil' sepertinya memang harus dirubah, karena proses lah yang terpenting. Tanpa proses yang maksimal, hasil pun takkan memuaskan.

    salam dari Jayapura

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, kesalahan-kesalahan seperti ini harus diubah. Hasil harus melalui proses tertentu agar bisa tercapai seperti itu

      Hapus
  12. Biasaa...manusia maunya enaknya aja serba instant dan kilat tanpa mempelajari prosesnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau semua hasil seenak yang dibayangkan, tidak akan ada cerita serunya lagi.

      Hapus
  13. Intinya sukses itu nggak instan ya mas? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan mie Instan pun cara bikinnya butuh proses yang panjang

      Hapus
  14. betul banget tuh, yang paling penting bukan di hasilnya, melainkan proses untuk mencapainya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Proses yang baik akan mengantarkan hasil yang baik pula. Ini yang jarng dipahami oleh orang

      Hapus
  15. setuju... proses itu penting, namun seringkali terlewat dari perhatian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang lebih banyak melihat hasil yang telah dicapai sekarang kemudian membanding-bandingkan dengan apa yang didapatnya sekarang. Padahal proses yang dilakukannya selama ini malah tidak sebanding, maka hasilnya sangat timpang.

      Hapus
  16. yang lebih saya kagumi, adalah pemikiran untuk menulis postingan ini, bagaimana suatu keberhasilan selalu ada proses yang dilaluinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahahaha saya hanya menuliskan keresahan pikiran saya.
      Harusnya kan begitu ya, ketika ada hasil pasti ada proses yang berat sebelumnya.

      Hapus
  17. tidak lulus kuliah tapi bisa jadi bos facebook, pastinya Mark berusaha juga dan bekerja keras sampai facebook berhasil. kalau tidak berusaha belum tentu bisa sukses bukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, tentang kerja keras yang dilakukannya itu tidak banyak orang yang mengetahuinya. Makanya orang cenderung menggampangkan

      Hapus
  18. Balasan
    1. aku gak bakat ngajari tenses wkakakaka

      Hapus
  19. itulah, yang dilihat hanya kulitnya saja,
    padahal jelas kalau sukses itu pasti dibutuhkan kerja keras dan proses.
    bahkan terkadang harus "menangis darah" juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, ketika diberikan kulit maka harusnya langsung ditanyakan isinya apa. prosesnya bagaimana sehingga kita tidak gampang terpesona.

      Hapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih