Kamis, 27 November 2014

E-Hate

Berita, rumusan awalnya adalah fakta. Pemaparan kejadian di lapangan untuk disebarluaskan ke masyarakat. Sebuah berita harus jujur dengan apa yang terjadi. Dengan adanya sebuah berita, penerima berita bisa mengambil tindakan yang harus dilakukan.

Berita bisa disampaikan dengan media apapun. Dulu, televisi, radio dan koran menjadi media mainstream dalam penyampaian berita. Bahkan bisa dijadikan sebagai rujukan. Karena dijadikan rujukan, media mainstream sangat berhati-hati dalam menurunkan berita. Kebenaran berita diuji dan dikaji sebelum tampil. Kode etik dijaga, opini diberikan seperlunya. Opini berita harusnya bersifat dugaan. Dari analisis berita, opini diberikan kepada pembaca sebagai alternatif agar pembaca berhati-hati dalam mengambil tindakan.

Zaman bergerak semakin global. Informasi begitu deras. Berita apapun bisa kita lihat di depan kaca. Dulu orang menerawang kejadian di belahan dunia lain merupakan suatu keahlian dunia gaib. Sekarang bukan hal yang aneh lagi. Dunia maya menjadikan keahlian penerawangan menjadi mudah. Semua berita bisa didapatkan dalam hitungan detik. Situs-situs berita bermunculan ingin menjadi portal berita yang paling cepat mengabarkan sesuatu. Sesuatu yang bisa sangat menarik sehingga diperbincangkan di dunia maya maupun di dunia nyata.


Adalah Mas Priyadi (Hai Pri, kapan ngeblog lagi?) mencetuskan istilah E-hate. Sebuah situs atau portal berita yang isinya membuat orang membenci di hampir seluruh pemberitaan. Bahkan tidak hanya situs dan portal berita, media sosial lain yang menjadi tren seperti blog, wall facebook hingga twitter pun yang isinya membuat orang untuk membenci, masuk ke dalam kategori E-hate.

Berita dan tulisan yang tersaji sebisa mungkin mengarahkan pembaca untuk membenci. Paparan yang diberikan disimpulkan secara langsung, dan seringkali kesimpulan yang diambil adalah kesimpulan yang salah. Opini-opini dibangun untuk menyudutkan, hasil dari rentetan kesimpulan yang salah. E-hate dibangun di dalam selipan opini yang didapatkan dalam fakta-fakta yang tidak nyambung. Pokoknya orang ini jelek, patut untuk dibenci.

E-Hate ini bukan main-main. Saya yakin orang yang ada di belakangnya adalah orang yang cerdas. Mereka mempelajari seluk-beluk perilaku masyarakat internet beserta kecenderungannya. Dari sekian derasnya informasi yang ada, kecenderungan pembaca (apakah anda termasuk?) adalah mencari berita yang fantastis. Dengan tulisan-tulisan yang cerdas dan provokatif, E-hate sanggup mengarahkan pembaca untuk sejalan dengan kesimpulan yang dibuat yang tentunya membenci.

Apa untungnya membuat E-Hate? Mungkin itu pertanyaannya. Ooo banyak sekali. E-hate akan menimbulkan keramaian seperti halnya pasar dalam waktu dekat. Kalau sudah ada kumpulan seramai pasar akan menguntungkan jika dijual. Iklan akan membayar mahal kepada mereka-mereka yang mempunyai traffict.

Beberapa E-Hate tidak disertakan susunan redaksi. Tidak ditemukan siapa-siapa yang bertanggung jawab dengan munculnya berita yang ada. Hal ini berbeda dengan detik.com, kompas.com atau antaranews.com, yang dengan mudah kita menemukan susunan redaksi. Kalaupun ada yang keberatan dengan isi berita, pembaca bisa melayangkan protes kepada pimpinan redaksi.

Di dalam E-hate, ada saja yang dijadikan alat pertentangan di dalam pemberitaan. Pemberitaan di media mainstream dicopy beberapa kemudian opini ditulis sedemikian rupa untuk membenci. SARA adalah topik pertama dan utama yang sangat laris bak kacang goreng. Tinggal sulut sumbunya dengan korek api, ledakannya akan bergaung di seluruh negeri. Urutan kedua adalah politik. Gulirkan saja isu politik dengan menyalahkan personal dan pelaku politik. kemudian tunggulah beberapa menit, akan terjadi perang komen antara pendukung dan kontra.

Jika suatu saat ada pemberitaan di situs E-hate dengan judul "Ingin jadi Presiden, bang Mandor blusukan." Kemudian saya berasa keberatan dengan pemberitaan tersebut. harus mengadu ke mana? Padahal faktanya, saat itu saya sedang disuruh beli sawi, kacang panjang serta cabe di pasar, kemudian turun hujan deras. Di dalam berita dituliskan saya sedang survey harga karena nanya-nanya harga, dianggap pencitraan karena saya membiarkan sandal dan kaki saya kotor selama ada di pasar. Kemudian ditulis juga saya mengosongi kolom agama dalam sebuah formulir. Lho, saya belum selesai mengisi formulir sudah dijadikan berita. Trus apa hubungannya dengan saya turun ke pasar?

Saya tidak akan menyebut situs manapun akun karena saya yakin para pembaca blog saya adalah orang yang cerdas. Punya daftar sendiri situs dan akun mana saja yang menyebarkan kebencian. Hanya dengan membaca judulnya saja, sudah bisa ditebak ini tulisannya kayak gimana. Bahkan kalaupun terpaksa ingin membaca isinya, pasti sudah punya tameng informasi yang sudah ada. Sehingga setelah selesai membaca, dengan bangga bergumam "sorry ya, saya tidak akan membenci orang dengan apa-apa yang sudah kamu tuliskan di sini."

Atau ada teman-teman yang share, asal share. Bagi-bagi berita yang menurutnya seru, menggugah, patut dijadikan referensi kebencian. Atau dengan ungkapan "Saya lihat di Internet, di situs anu." Maka cukuplah mbatin saja. Temen yang satu ini sebenernya sudah membaca isinya atau belum sih? Kok berita dangkal begini di share? Kok berita sampah begini dimakan juga. Apa mikirnya hanya segitu?

Kebohongan, korupsi, ketidakadilan, mencuri, serakah, menghasud dan perbuatan setan lainnya harus kita jauhi, harus kita benci, bukan orangnya.

Halo hari ini, sudahkah anda membenci seseorang karena membaca Internet?

42 komentar:

  1. Saya pernah benci sama orang karena internet. Tapi yang saya benci bukan orang yang ditulis di berita-berita di internet itu, tapi justru orang yang dibela. Huehehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lhoo malah salah sasaran beritanya. Bisa jadi hal tersebut memang asalnya, bisa jadi dari orang lain. Hanya spekulasi saja.
      Yang pasti perbuatan itu harus kita jauhi, orangnya tidak kita benci.

      Hapus
  2. saya ga membenci seseorang karena internet Pak,
    lha saya taunya cuma sebatas layar monitor, gimana mau benci?
    kalau cinta, mungkin, saya suka berandai-andai :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jangan ikut-ikutan dalam project E-Hate ini ya. Semakin banyak pro dan kontra nya semakin ramai. Semakin senang juga pemilik situs, semakin senang juga pemilik iklan.

      Hapus
  3. Syukurlah sampe skr aku ga ikut2 yg begini.. blas ga da manpangatnya buat hidupku ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar mam. Gak ada manfaatnya babar blas. bahkan kita ikut membela pun tetap saja tidak mengubah keadaan. Hanya menambah ramai saja. yang seneng pastinya pemilik situs karena kunjungannya membludak.

      Hapus
  4. Hehehe jaman modern haruse masayarakatnya makin cerdas sam.. Lah cuma akhiran dot com aja udah dianggap bonafid.. wis gini piye kalau kita bikin portal sendiri dengan nama domain karepkudewe.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Priyadi kae jarene arep nggawe industri E-Hate iki, itung2an e jarene rodok lumayan. Butuh modal 20jt trus tinggal menikmati hasilnya.... hahahahah ternyata guyon

      Hapus
  5. wah kalau yang begini fanpage di facebook banyak sekali. kalau aku si suka baca aja apa lagi bagian komentar orang2 terhadap beritanya dan kadang senyum-senyum sendiri. sekarang ini ngak mudah buat percaya terhadap berita di internet. kalau sampai membenci seseorang alhamduillah belum mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fanpage facebook banyaak sekali yang seperti ini. Kalau dibaca dengan berita-berita di tempat lain, akan terasa lucu logika dan pengambilan kesimpulannya.
      Ternyata di balik itu ada uang yang beredar, ini yang menyebabkan E-hate terus ada

      Hapus
  6. penyaji tulisan di internet semakin cerdas maka pembacanya juga harus semakin cerdas memilah-milah informasi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pembaca sekarang harus pinter-pinter menyaring berita mas

      Hapus
  7. memang kita sebagai pembaca, penikmat dan pengguna media sosial harus makin pandai menyaring berita yaa...kalau ngga, gawaaat...bisa gila sendiri baca informasi yang tersebar di mana-mana..e-hate menurut saya bener-bener menghabiskan waktu, tenaga dan emosi... say no to black campaign :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang bukan hanya penulis dan media yang memegang berita. Pembaca juga harus selalu waspada dengan hal-hal yang bersifat membenci. Jangan-jangan ada apa-apanya.
      Setuju mbak, say no to back campaign

      Hapus
  8. tambah kesini berita di internet judulnya tambah serem dan terkesan memprovokasi nih bang. Kalo aku sih suka udah males duluan bacanya lho...

    Dan gak pernah sekalipun kepengen nge share berita politik lho, palingan nge share tentang drama korea yang lagi tayang aja lah...hihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari membaca judulnya saja mbak titi sudah bisa menebak apa isi tulisannya. Berarti mbak titi sudah mempunyai benteng yang sangat kuat.

      Terus semangat ngeblog ya dan memperkenalkan drama korea ke khalayak manusia xixixixi

      Hapus
  9. saya pernah dan mungkin masih sampai sekarang.
    bahkan menilai orang dari apa yang ia tulis saya lakukan juga melalui internet. habis mau gimana, untuk bbrp orang yang sering internetan sudah seperti bertingkah laku biasa di dunia maya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dengan penulisnya, saya juga bingung harus menyikapinya. Kadang dia melakukannya dengan sadar bahwa tulisan itu salah, kadang juga penulis tergoda oleh sejumlah uang. Dilema juga, menulis untuk membeci orang lain ternyata sudah biasa ya bagi mereka

      Hapus
  10. Hmm.. Sebagian orang wataknya bisa diketahui dari tulisannya, tapi ngga 100% jugak ya, Bang..

    Dulu di tanya jawab yahoo selalu tentang agama, bahkan sampe bawa kitab, hadist segala.. Jadinya ya daripada aku ikutan benci, mendingan ngga pernah buka lagi deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulisnya sih gak masalah. Tulisan yang isinya membenci itu yang harus kita waspadai beb, jangan sampai kita terprovokasi sehingga membenci orang lain karena suatu tulisan

      Hapus
    2. Bener, Bang.. Tulisannya yang pengaruh banget yak.. Aku sekarang lebih sukak menghindar sih. Takut jadi terprovokasi :'

      Hapus
    3. hahaha jadi pembaca yang cerdas, cari informasi dan fakta-fakta yang valid dengan membandingkan berita yang satu dengan yang lain

      Hapus
  11. kalau nongol di FB dari sharing teman, saya baca komen2 disitu biasanya, udah kayak ahli semua, lumayan bikin ketawa sendiri.
    Ikutan benci, ya ga lah, ga kenal kok benci. Itu kan sisi lain dari cinta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah kalau sudah bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang opini kan enak. Kita jadi punya benteng untuk menyaring informasi yang kita baca di internet.
      Orang yang merasa ahli kadang membuat kita tertawa ngakak

      Hapus
  12. Salah satu sisi negatif internet, siapa saja bisa membagi informasi termasuk informasi yang negatif dengan tujuan mendiskreditkan suatu pihak.
    Entah mengapa kalau melihat kondisi yang ada, kok rasanya gampang banget menyulut kebencian, mungkin berita negatif memang tampak lebih menarik untuk disimak dan dipercayai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bad news is good news. Inilah yang digunakan oleh penulis. Psikologi masyarakat Indonesia dimanfaatkan begitu rupa dengan cerdas oleh penulis, agar ramai, agar jadi pembicaraan orang. Kemudian bisa dijual.

      Hapus
  13. saya jadi bertanya=tanya..bila E-hate tidak ada tercantum nama , alamat penanggung jawab atau redaksinya....ini sama saja dengan situs berita abal-abal yang sempat heboh berapa waktu yg lalu...... apakah pengelola e-hate terlalu cerdas..sehingga bisa bertindak seperti itu...atau mungkin saya yang terlalu bodoh...
    keep happy blogging always..salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar. Bahwa penulisnya sudah melakukan analisa, social Engineering, perilaku masyarakat. Bahwa ketika begini akan begitu. Dan perhitungan-perhitungan mendasar yang bagus sehingga tidak heran, sebuah berita diunggah akan langsung ramai, dipebincangkan dan diperdebatkan. Tinggal pemiliknya menerima recehan iklan atau adsense

      Hapus
  14. menyimak sambil nyruput kopi. ihiiirrr....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo asal kita tidak saling membenci saja hahahaha

      Hapus
  15. jaman sekarang makin banyak yang mudah termakan berita. Baru baca judulnya aja udah langsung nge-share :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar. Asal share begitu dapat judul "bagus" untuk menyerang orang-orang yang tidak disuka. padahal isi berita yang belum tentu terverifikasi dengan fakta. Maka saya berharap untuk kita ini menjadi pembaca yang cerdas saja.

      Hapus
  16. berhadapan situs ato web apapun yang menampilkan brita brita yang nyeleneh kuncinya cuma 1 abaikan, tak perlu dikomentari, tak perlu berdebat dan tak perlu terpancing

    karna memang itu tujuannya, smakin terpancing smakin mendebat smakin senanglah mreka...

    dan jikapun kenyataannya benar seperti yang dibritakan,biarkan saja...cukup tau saja itu kalo sayah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. LHaaaaaaa ... itu di kalimat terakhir, akhirnya terbongkar juga (halah)
      Semakin kita berdebat dengan suatu berita yang tidak jelas faktanya, semakin senang orang yang di balik berita tersebut. Mereka senang rakyat ini beradu benci, mereka senang karena dapat keuntungan finansial

      Hapus
  17. banyak orang yang hanya baca dari judulnya saja, maka tak keran banyak salah kaprah oleh karena berita yang tak terbaca tapi cuma disebar. hiyaaa...
    apa orang indonesia itu begitu yaaa? suaknya menilai orang lain..
    #eh kayak saya orang mana aja, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah yang sudah dipelajari oleh penulis di balik E-hate ini. Social engineering, hal-hal yang bisa dikondisikan di dalam masyarakat. Dengan judul yang fantastis dan mencengangkan akan langsung disebar tanpa ampun. Eh orang Indonesia katanya sudah mulai cerdas ya? Masalahnya yang cerdas itu masih kalah dengan yang sporadis dan berani meskipun mereka jumlahnya sedikit.

      Hapus
  18. Judul udah mengcover isi ya, Pak. Saya banget tuh. Yabg belum bisa buat judul postingan. :D

    Kalau sampai membenci enggak pernah sih, Pak. Tinggal skip aja. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Judul mencover isi. Ada beberapa yang memang begitu. Ada yang judul dan isinya tidak sesuai fakta. Ada yang memutar balikkan kondisi yang ada. Pokoknya tujuannya membeci lah. Semakin banyak yang benci, semakin ramai maka semakin kencang pula traffictnya

      Hapus
  19. Balasan
    1. Monggo diperhatikan saja kondisi di lapangan, eh ... di dunia maya

      Hapus
  20. Balasan
    1. Yap betul mbak Ely. Industi kebencian.

      Hapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih