Senin, 20 April 2015

Guru

"Jadi apa yang kamu dapat dari kegiatanmu kemarin itu?"
Begitu tanya Mbok Djum sesaat setelah saya duduk di bangku panjang itu.

Saya yang masih terkena demam euforia Kelas Inspirasi kemarin pengen cerita macam-macam ke Mbok Djum. Cerita yang baik-baiknya thok, yang jelek-jeleknya gak usah diceritakan nanti malah tambah gak asik ngobrolnya.

Perkenalan saya dengan para dewan guru, malah menganggap saya adalah seorang eksekutif pada perusahaan ternama. Halah. Padahal saya kan hanya level mandor. Saya malah takut dengan persepsi yang tersemat di dalam diri saya yang tidak sesuai dengan kemampuan saya. Begitu hormatnya guru-guru itu kepada saya hingga saya "dibasani", diajak ngomong bahasa jawa dengan Kromo Inggil, haduhhh gak usah segitunya kali.


"Tentang siswa mbok, saya seperti melihat replika diri di wajah anak-anak itu. Dulu saya gak jauh beda dengan kelakukan mereka saat ini." Saya menjawab Mbok Djum sambil meringis.

Anak-anak tetap dalam dunia mereka, berfantasi dengan segala macam angan untuk berinteraksi dan sosialisasi sesama temannya. Sifat bandel dan nakal mereka pun ternyata ada sisi yang masih bisa didengar. Masih bisa dididik, masih bisa berkhayal tentang berbagai pengetahuan.

"Anak-anak, begitulah mereka adanya. Polos. Siap dibentuk oleh didikan guru." Begitu balas Mbok Djum singkat.

"Yang saya sungguh takjub adalah para guru itu Mbok, mereka setiap hari menghadapi anak-anak yang ajaib dengan sabar. Saya yang mencoba merasakan berposisi seperti mereka beberapa jam, sudah nyerah. Kok ya untungnya saya di kelas dilepas sendirian, gak ditemani sama guru atau teman yang lain. Kalau ada temannya mungkin saya sudah melambaikan tangan ke arah kamera hahaha."

Saya melihat Mbok Djum tersenyum.

"Tugas guru itu sangat-sangat mulia." Pandangan Mbok Djum jauh ke langit sana. Kemudian disusul dengan hela nafas. "Itulah yang dikerjakan Guru. Guru menuntun ke arah yang baik. Mendidik tentang benar dan salah disertai nilai-nilai dalam kehidupan. Guru tetap berusaha menanamkan pemahaman pendidikan dari ilmu tersebut. Sedangkan google hanya memberikan ilmunya saja.

"Masih gak ngerti mbok."

"Contoh yang paling mudah adalah hitung-hitungan matematika. Penjumlahan dan pengurangan sederhana bisa berbeda penerimaannya bagi siswa. Ini adalah pelajaran mendasar."

Mbok Djum menghentikan uraiannya sejenak.

"Masih ingat uang hilang 1000 yang kerap kali kita temukan di dunia maya. 1000 nya kemana? Seakan-akan memang hilang. Seakan-akan kita sedang dibodohi dengan ilmu matematika. Seakan-akan kita sedang dimanipulasi dengan perhitungan yang benar. Ilmu matematikanya benar, tapi digunakan untuk hal yang membingungkan.
Guru lah yang mendidik sejak dini bahwa ilmu harus digunakan dengan baik. Mengajarkan hal baik, mengajarkan nilai-nilai dari kecil. Menjaga agar nilai tersebut terbawa hingga besar nanti."

"Coba bayangkan jika matematika ternyata digunakan untuk menghilangkan angka seribu, sejuta, semilyar. Bayangkan jika ilmu akuntansi digunakan untuk memanipulasi pajak. Bayangkan jika ilmu hukum malah dipakai untuk memutar balikkan hukum. Bayangkan jika ilmu internet malah digunakan untuk membobol dan mencuri. Bayangkan jika ilmu alam malah digunakan untuk membuat senjata."

Wajah Mbok Djum berubah serius.

"Itulah yang membedakan Guru dengan Google. Google memang pintar, segala ilmu ada. Namun hanya sekedar ilmunya saja, ini ditambah ini sama dengan itu, kalau ada masalah ini jawabannya begitu. Namun Google tidak bisa melarang untuk melakukan kejahatan.

Sedangkan guru selalu menjaga siswanya dan menanamkan nilai secara terus-menerus di setiap pelajarannya, sebandel apapun siswanya."

Saya harus setuju dengan kalimat mbok Djum yang terakhir itu.

22 komentar:

  1. Mboook Djuuum...aku padamuuuh :)

    Google memang pinter bang, tapi gak punya hati :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, google memang gak punya hati. Ilmu diberikan namun penggunaannya diserahkan kepada masing-masing pembacanya

      Hapus
  2. Jadi guru TK lebih sabar lagi pastinya ya :) pengalaman pertama ya mas jadi guru walaupun hanya sesaat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Whaa kok malah guru TK si,
      Kemarin Kelas Inspirasi dilakukan di SD bekasi Jaya 14 di daerah proyek, Bunda.

      Hapus
  3. ini sama dengan ketika anak anak mecahin piring di rumah mbahnya. aku tegur, mbahnya komplen katanya anak itu kan poto kopian bapaknya. kalo anaknya nakal berarti bapaknya dulu nakal

    jadi mikir...
    karena aku dulu lebih nakal ketimbang anakku
    berarti poto kopian juga dong..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya ada gen yang tidak hilang antara anak dan bapak itu. Sifat-sifatnya juga menurun.

      Hapus
  4. guru memang seorang yang pantas digugu dan ditiru...tanpa guru kita nggak mungkin seperti ini...apalagi si guru yng super sabar seperti guru TK...bisa membawa anak2..bisa memahami dan mengerti anak2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat itu saya juga berusaha untuk memahami dunia anak-anak. Dengan masuk ke dunianya, maka materi mudah disampaikan

      Hapus
  5. Sepakat dengan pemikiran Mbok Djum. Menjad guru bukan semata menstransfer ilmu dan pengetahuan yang kita miliki, tapi lebih dari itu harus menjadi satu kesatuan antara kepintaran intelektual dan kepintaran dalam bersikap.
    Bahwa mendidik anak tidak hanya cukup membuat anak pintar dan cerdas berdasarkan ukuran nilai prestasi. Justru yang terpenting adalah prestasi dan kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial.

    BalasHapus
    Balasan
    1. PakIes, saya senang sampeyan berkunjung ke sini, jadi menambah ilmu buat saya. Komentar PakIes tetang mbok Djum membuat saya merenung lagi

      Hapus
  6. Saya angkat jempol untuk Mbok Djuuuuum.....
    Guru tentu tidak hanya menyampaikan, tapi juga membimbing, di samping itu guru juga bertanggung jawab kepada Tuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar pak Azzet, bahwa guru sedang menjalankan tugas yang sangat berat dengan penuh tanggung jawab. Dunia dan akhirat, menyiapkan anak didik agar bisa berguna dunia akhirat

      Hapus
  7. Aku fans berat Mbok Djuuuum :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku padamu beb ... halah !

      Hapus
    2. Pada mu dalam artian apa nih, Bang? Wkwkwk :P

      Hapus
  8. Mas Mandor keren deh sudah ikut kelas inspirasi. Saya sampai saat ini baru sebatas cita-cita. Tapi suatu saat bertekat ikut. Selamat mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya ditakut-takuti agar tidak ikut, eee ... ternyata saya malah ingin membuktikan diri kalau saya berani dan bisa hahahaha

      Hapus
  9. Huaaa ud komen and sharing cerita panjang2, hilaaanggg :(((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lhoo kemana komennya, sayang sekali saya tidak menemukan di mana-mana

      Hapus
  10. Mengajarkan ilmu bisa dilakukan siapa saja, tapi menanamkan sifat2 baik terus-menerus itulah salah satu tugas mulianya guru.
    Keren bang mandore sudah mengikuti KI. Saya sangat berminat mengikuti KI.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo ikut saja. Ada banyak ilmu yang didapat dengan ikut kegiatan KI tersebut. Ada kebahagiaan yang tersembunyi di sela-sela mata anak-anak tersebut

      Hapus
  11. Mengajarkan ilmu bisa dilakukan siapa saja, tapi menanamkan sifat2 baik terus-menerus itulah salah satu tugas mulianya guru.
    Keren bang mandore sudah mengikuti KI. Saya sangat berminat mengikuti KI.

    BalasHapus

Ada komen, silahkan.
Mohon maaf jika tersandung Chapcha, setting saya sudah non-aktif tapi mungkin ini adalah kebijakan blogspot. Terima kasih